Skema Antena VHF 2 Meter band









Selengkapnya...

Cara Mudah Install Squid di Windows percepat Internet

Install Squid Di Windows

Menggunakan Squid adalah sebuah cara untuk menghemat bandwidth, dan memperingan kerja modem, secara sederhana bisa di jelaskan seperti ini:
Pada saat kita memuka halaman web, kita akan meminta data dari hosting web file-file yang berada pada web tersebut, misalkan seperti gambar dll, nah Squid akan menyimpan file-file tadi dengan tujuan agar kita tidak meminta ulang file file tersebut, tapi cukup mengambil dari folder cache yang di miliki Squid.
Langsung saja di persingkat,,


Pertama Download dulu Squidnya di sini,, atau di situs resminya,
Kemudian Extract file tersebut ke directory C:\
screenshootnya seperti ini,,
selanjutnya anda click run dan ketikan CMD trus enter,,


akan ada halaman Command prompt yang muncul, selanjutnya ketik
  1. cd C:\squid\sbin <<======enter
  2. squid -z <<<<<<<Enter
  3. tekan tombol Ctr + C trus ketik lagi perintah selanjutnya
  4. squid -i
  5. squid -O -D
Proses instalasi sudah selesai,, sekarang kita masuk ke tahap berikutnya
Klik run lagi dan ketikan services.msc Cari Squid, dan klik kanan Start seperti pada gambar di bawah ini

Nah sekarang atur Browser anda agar menggunakan Proxi Squid yang sudah kita buat itu,,
Caranya kalau pake mozila masuk ke Tools <<<< Options<<<<advanced<<<<Network<<setting, mka anda akan di bawa ke halaman seperti ini

Klik Manual Proxy dan masukan proxy 127.0.0.1 dengan Port 3128,
Selasai deh,, sekarang anda sudah menggunakan Squid,,
Untuk merubah Folder Cache anda bisa buka file squid.conf dan edit dengan notepad atau notepade ++ cari kata cache_dir ufs kalau susah nyarinya gunakan CTR + F

ada banyak fitur yang bisa anda terapkan dengan Squid, termasuk juga memblockir situs porno,, jika anda tak ingin browsing situs porno,, tapi saran saya lebih baik yang di blockir hatinya saja, karena gak ada cara yang sempurna untuk meblockir maksiat :lol: :lol:
Untuk cara memblockir situs porno dengan Squid nanti insya allah akan saya bahas pada tulisan selanjutnya,,
tekan CTR + D untuk mem-bookmarks ( menandai ) situs ini agar anda mudah mencarinya kembali,, maklum sekarang lagi menjamur situs Auto Content yang cuma bikin anda mumet karena muter muter,, :lol: :lol: kalau mau sambil nyanyi nyanyi bisa juga bookmark situs mp3 yang saya kelola di http://mp3.inifree.com/
Selengkapnya...

Tutorial php dll.

 .:: Pengen Belajar Script *PHP// :Klik Disini
.:: Beberapa script toko online gratisan yang lain yang bisa anda install adalah:

  • Magento
  • PrestaShop
  • phpShop
  • VirtueMart (Joomla) Klik Disini
  • WP-Commerce (Wordpress)
Selengkapnya...

Panasonic LUMIX

Selengkapnya...

Sun Set

Selengkapnya...

Flowrs




Selengkapnya...

Dual Gereja

Selengkapnya...

Halaman Rumah part2

Selengkapnya...

Macro


Selengkapnya...

cara menangkap citra pada kamera digital


mungkin kita dalam memakai kemara digital tidak mengetahui cara kerja kamera digital karena kita sebagai orang awam hanya untuk memakai. mungkin disini saya ingin memberitahu cara kerja kamera digital dalam menangkap citra yaitu.
Sekeping CCD memiliki jutaan sensor. Setiap sensor memiliki warna dasar dari sebuah warna (merah, hijau, biru) pada posisinya. Satu keping yang memiliki sejuta sensor disebut dapat menangkap satu “megapixel” data. [1 mega = 1 juta]
Data warna tersebut kemudian dibaca, satu baris per satu satuan waktu, menggunakan sebuah analog-to-digital (ADC) yang mengubah bacaan warna (yang ditangkap kepin CCD sebagai perbedaan tingkat voltase) menjadi data digital. Dengan membandingkan data dari setiap bacaan pixel merah, hijau, dan biru, yang kemudian oleh ADC warna setiap pixel tersebut ditentukan dan disimpan sebagai data.
Sebagai contoh, bila merah, hijau, dan biru digabungkan pada tingkat maksimum, warna pixelnya akan menjadi putih. Bila tingkat kecerahan dari tiga warna dasar tersebut minimum, maka pixelnya menjadi hitam. Jutaan warna dapat digambarkan sebagai perbedaan kecerahan dari tiga warna dasar pada setiap pixel. Data tersebut kemudian dikoreksi warnanya, dikompres, dan disimpan pada memori.
Pada sebuah kamera film (kamera tradisional), ia bertindak sebagai penangkap citra dan media penyimpanan. Kamera digital menyimpan citra tersebut sebagai sebuah file, sama seperti Anda menyimpan hasil kerja Anda di komputer.
Kamera digital tipe lama dan beberapa kamera digital tipe entry-level menyimpan gambar yang ditangkapnya pada chip memori dalam kamera tersebut. Bila memorinya penuh, Anda harus menghapus gambar yang tidak diperlukan untuk mendapatkan kembali memori tersebut. Saat ini, kamera digital menyimpan file-filenya pada sebuah memori flash. Anggap saja sebuah memori flash sebagai sebuah film digital. Pada dasarnya sebuah memori flash adalah sebuah RAM, sama dengan RAM yang Anda gunakan pada komputer Anda, tetapi dengan perbedaan yang penting: Bila komputer dimatikan maka RAM-nya akan kehilangan seluruh data di dalamnya. Memori flash akan tetap menyimpan data di dalamnya sampai walau telah dicabut dari sumber dayanya hingga data-data tersebut sengaja dihapus untuk diisi data yang lebih baru.
Bila Anda telah menyimpan citra yang Anda tangkap, Anda dapat meng-upload file tersebut ke PC Anda untuk diedit atau dicetak. Kebanyakan kamera digital menggunakan koneksi serial atau USB dan software khusus untuk meng-upload file-filenya ke komputer. Cara lainnya adalah menggunakan sebuah flash card reader yang membuat komputer Anda membaca sebuah kartu memori flash sebagai sebuah removeable disk. Bahkan beberapa printer memiliki kemampuan untuk mencetak gambar langsung dari memori flash. Selengkapnya...

pengukuran cahaya pada saat memotret


setiap kita ingin melakukan kegiatan foto kita melupakan pengukuran cahaya pada saat kita melakukan foto. jika kita melupakan pengukuran cahaya pada melkukan foto maka kita mungkin mendapatkan hasil yang kurang memuaskan dalam mendapatkan hasil yang baik. mungkin disini saya akan memberitahu cara yang baik dalam mengatur pengukuran cahaya yang baik seperti ini.
Bracketing memang mengandung pengertian sebagai sarana bantu bagi pemotret untuk mendapatkan pencahayaan dalam pemotretan yang baik – tidak kelebihan atau kekurangan sinar. Karena itu rumusan yang perlu diingat, bahwa pengukuran cahaya dalam pemotretan yang baik itu memang sangat diperlukan sekalipun pencahayaan yang memenuhi kebutuhan adalah hal utamanya. Dan, melakukan bracketing adalah jalan keluar untuk mendapatkan pencahayaan dalam pemotretan sesuai kebutuhan.
Sesungguhnya untuk melakukan bracketing tidaklah sulit. Cukup seorang pemotret melakukan pengukuran cahaya sesuai ukuran normal yang diterima kamera lalu mengurangkan satu stop dan melebihkan satu stop dari ukuran cahaya normal dengan cara membuka atau mengubah besar diafragma dan kecepatan rananya.
Meskipun bracketing juga masih dapat dilakukan dengan cara menggunakan tombol exposure compensation dan mengubah kepekaan ISO-nya, secara umum dengan kamera digital sudah cukup dapat dilakukan dengan mengubah bukaan diafragma dan kecepatan rana kamera. Pada foto “Siluet” misalnya, sebagai standar sebuah ukuran pencahayaan dalam pemotretan sesungguhnya adalah foto yang gagal karena hanya menggambarkan subjeknya secara gelap seperti gumpalan tinta. Akan tetapi kesalahan itu dapat saja menjadi “sah” dan dianggap baik, dibenarkan serta dapat dinikmati sebagai suatu hasil foto yang berhasil dan mengandung seni bila memang penggarapannya dirancang untuk itu.
Untuk kasus subjek seperti pada foto “Siluet” tersebut, jika pemotret menghendaki hasil pemotretan yang akurat dengan menampilkan subjeknya secara jelas dan terang, maka hanya dapat dilakukan dengan membuka bukaan diafragma lebih lebar dan melambatkan kecepatan rana agar pencahayaan dalam pemotretan menjadi cukup.
Dapat juga dilakukan dengan menggunakan lampu kilat dari arah depan subjek, sejajar dengan kamera. Akan tetapi cara demikian hanya akan menghasilkan subjek foto yang tampak biasa, terang dan jelas tetapi “nyeni”.
Pada fotografi atau pemotretan yang dilakukan dengan menggunakan kamera digital, khususnya pada subjek yang berwarna putih, memang sangat diperlukan pemotretan dengan cara bracketing. Hal itu tak lain untuk menghindari hasil siluet, karena kamera digital sangat rentan dengan cahaya putih. Karena itu untuk akurasi warna serta pencahayaannya dalam menggunakan foto digital perlu sebelumnya dilakukan standardisasi warna hitam dan putih, atau lebih sering dikenal dengan white balance disingkat WB untuk mendapatkan keakuratan warna dan tentu juga pencahayaan.
Setelah standardisasi warna dilakukan maka untuk melakukan bracketing tekniknya sama seperti yang dilakukan pada pemotretan menggunakan kamera konvensional. Yaitu dengan melakukan pemotretan pada cahaya terukur normal, lalu pada cahaya terukur 1 stop di bawah normal dan cahaya terukur 1 stop di atas normal.
White Balance
White balance (WB) memang bisa tidak ada artinya bagi kamera konvensional, akan tetapi bagi kamera digital sangat penting. Karena hal itu menjadi kunci kesuksesan pemotretan terutama ditinjau dari sisi warna dan cahaya. Namun sebelum melangkah lebih lanjut berkaitan dengan white balance, perlu diketahui bahwa pengaturan WB belum tentu bisa mengoreksi semua warna yang kita kehendaki dalam pemotretan. Pada beberapa situasi spesifik, filter seperti polarizing masih tetap diperlukan dalam pemotretan digital.
Ada dua metode atau model pendekatan penggunaan WB, yaitu auto atau manual. Dengan auto bila ada kesalahan komputer kamera dalam menginterpretasi WB, apabila objek foto didominasi warna tertentu dan tidak ada warna putih sedikit pun yang dapat dijadikan refrensi oleh komputer pengolah. Misalnya pada suasana sore hari menjelang matahari terbenam, maka nuansa warnanya kemungkinan akan didominasi dengan selaput warna hangat yang bila diperlukan hasil ini bisa dikoreksi dengan menggunakan software pengolah foto di komputer.
Dengan manual, menyeleksi temperatur warna yang sesuai atau mendekati kondisi cahaya pada saat pemotretan. Karena itu diperlukan sedikit kecakapan memperkirakan berapa derajat (Kelvin) cahaya di sekitar objek yang sedang difoto untuk pengaturan manual.
WB dalam pemotretan menggunakan kamera digital berkaitan erat dengan bracketing yang merupakan suatu alternatif pemotretan untuk mendapatkan hasil pemotretan dengan pencahayaan akurat. Hal ini merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pemotretan akan menjadi lebih sempurna bila pemotret telah mengatur WB secara tepat.
Sekalipun dengan kamera digital pengoreksian atau alternatif pencahayaan dapat dilakukan dengan mengubahnya menggunakan komputer, seperti kita ketahui, berbagai kekurangannya sering mengakibatkan foto menjadi tidak tajam atau sisi lain yang menyebabkan tambahan waktu pengerjaannya. Maka lebih baik melakukan pemotretan dengan bracketing sehingga tak perlu mengalokasikan waktu lebih lama lagi dan mendapatkan foto dengan standar warna, mutu serta ketajaman yang baik.
Siapa pun pemotret tentu menginginkan hasil pemotretannya sesempurna mungkin. Karena kamera digital sangat rentan terhadap cahaya putih dan pemotretan yang dilakukan menentang sinar, maka dalam fotografi digital tindakan bracketing sebaiknya tetap dilakukan oleh pemotret. Tujuannya untuk kesempurnaan hasil pemotretan.
sumber
Selengkapnya...

Pedoman Membeli Kamera D-SLR

Pedoman ini ditujukan bagi mereka para pemula dan hobbyist yang sedang bingung membeli kamera Digital Single Lens Reflect, atau DSLR. Apabila anda mengharapkan tulisan ini berupa perbandingan fitur-fitur, fasilitas, mega-pixel dan semua spesifikasi kamera, anda akan kecewa. Tulisan ini tidak akan membahas fasilitas kamera. Tulisan ini tidak akan menyarankan anda untuk membeli kamera apa. Tulisan ini tidak akan membahas mega-pixel dan tidak akan membandingkan kamera X dengan kamera Y. Sudah banyak tulisan tentang hal itu di internet dan saya tidak berniat untuk menambah satu lagi.


Tulisan ini berupa pedoman, dan cara mengelompokan kamera yang sesuai dengan kebutuhkan anda. Tulisan ini akan mencoba membantu anda mengambil keputusan yang terbaik dalam memilih dan membeli kamera DSLR. Tulisan ini hanyalah pedoman, petunjuk, saran, rekomendasi, guide, atau apalah namanya. Jadi, jangan berharap di tulisan ini saya menyarankan anda sebaiknya membeli kamera apa. Bila itu yang anda harapkan, maaf, tulisan ini bukan untuk anda hehehehe.
Pendeknya
Apabila anda ingin jawaban yang singkat, langkah membeli kamera D-SLR sebenarnya amat mudah. Anda tinggal tentukan jumlah uang yang akan anda belanjakan, sehingga pilihan model kamera yang anda tinggal sedikit. Lalu tentukan merk apa yang anda nyaman. Pemilihan ini juga dipikirkan teman-teman anda memakai merk apa. Kalau anda berencana bisa pinjam-meminjam alat dan aksesoris ketika hunting bersama, pilih merk yang sama. Kalau anda ingin berbeda, ya tinggal pilih merk kamera yang berbeda dari teman anda. Selanjutnya, tinggal anda membeli kamera tersebut. Langkah ini yang paling sulit biasanya hehehehehe…..
Baik, itu versi pendeknya. Kalau mau versi panjangnya, kita mulai dengan membahas…..
Kelas Pengguna Kamera
Semua merk kamera D-SLR membagi konsumen mereka di kelas-kelas pengguna kamera. Pembagian kelas ini juga menentukan, harga yang mereka pasang untuk produk mereka di masing-masing kelas. Para produsen kamera biasanya membagi konsumen mereka menjadi beberapa kelompok:
- Entry level
- Hobby
- Semi Professional
- Professional
Profesional adalah wartawan foto yang setiap hari dipanggil tugas untuk meliput dalam kondisi apapun, panas, hujan, badai pasir, di lapangan olah raga, atau bahkan di medan perang. Profesional adalah fotografer komersil yang melakukan pemotretan hampir setiap hari. Profesional adalah mereka yang akan memakai kamera mereka hingga limitnya.
Kamera untuk pengguna ini didesain dengan ketahanan yang kuat dan tingkat kehandalan yang tinggi. Biasanya body-nya terbuat dari campuran metal, dengan tingkat kerapatan karet pelindung yang tinggi, sehingga dikatakan weather-proof. Bisa dipakai dibawah hujan, walaupun tidak dikatakan water-proof. Fasilitas dan fitur-fiturnya dibuat amat beragam dengan akses terhadap fitur tersebut dibuat lebih mudah (diberi banyak sekali tombol akses untuk fasilitas). Fiturnya pun banyak yang bisa diatur sendiri, sehingga fotografer bisa memiliki banyak sekali pilihan untuk bekerja.
Semi-profesional adalah orang-orang yang memakai kamera mereka untuk mencari uang, akan tetapi tidak membutuhkan ketahanan kamera seperti mereka yang profesional. Fasilitas, kehandalan, dan ketahanan kamera mereka tidaklah perlu sekuat kamera profesional. Semi-profesional adalah fotografer pernikahan yang lebih banyak memakai kamera mereka pada akhir pekan.
Hobby adalah orang-orang yang memakai kamera mereka untuk hobby mereka. Kamera dipakai untuk bersenang-senang dan melepas penat pekerjaan utama mereka. Kamera dipakai sekali-sekali atau mungkin tiap akhir pekan bersama teman-teman mereka.
Sedangkan Entry Level adalah orang-orang yang baru saja ‘kenal’ dengan kamera. Entry level, seperti namanya, adalah tingkatan pemakai kamera yang baru ‘masuk’ ke dunia kamera. Hal ini dikarenakan harga kamera di kelas ini adalah harga yang paling murah dibanding kelas-kelas yang lain.
Kamera untuk pengguna Entry Level biasanya diberikan yang dasar saja (dan beberapa fitur “penarik” untuk tujuan marketing). Body kameranya dibuat dari plastik, dengan ketahanan dan kehandalan yang dibuat cukup untuk pengguna level ini. Fasilitas dan fitur-fiturnya kebanyakan “disembunyikan” di dalam menu, sehingga untuk mengaksesnya harus melalui menu terlebih dahulu. Kamera di kelas ini tetap memiliki karet seal, akan tetapi tidak serapat kelas-kelas di atasnya. Sehingga kamera ini tidak bisa disebut weather-proof, walaupun ada beberapa temen yang tetap berani pakai kamera ini walaupun sedang hujan.
Di antara kedua ujung spektrum pengguna Entry Level dan Professional, ada pengguna Hobby dan Semi-Profesional. Fasilitas, ketahanan body, serta desain dasarnya jelas berada diantara kamera kelas Profesional dan kamera kelas Entry Level. Pada rentang antara ini, model kamera yang ditawarkan amat beragam dengan fasilitas dan fitur yang juga amat beragam. Batasan antara kamera Hobby dan kamera Semi-Profesional amatlah kabur dan mengundang perdebatan.
Harap diingat bahwa produsen kamera tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa mereka mengelompokan konsumen mereka dalam kelompok-kelompok itu saja dengan 4 jenis kamera yang berbeda-beda dalam suatu waktu. Mereka bisa saja memiliki lebih dari 4 (empat) produk dengan tingkat fasilitas dan fitur yang berbeda-beda. Semakin banyak pilihan, tentunya semakin banyak kemungkinan seorang pembeli bisa memilih yang lebih sesuai dengan kebutuhan (dan kantong) mereka.
Kebanyakan dari anda, yang membaca tulisan ini, jatuh di katagori Entry Level atau Hobby. Mungkin, dengan kekuatan uang anda, anda bisa mengatakan kalau anda bisa memakai kamera Semi-Profesional atau bahkan kamera Profesional. Bisa saja, dan tentu saja sah-sah saja kalau anda berencana membeli kamera yang terbaik dengan uang anda. Tulisan ini hanya memberikan pedoman dasar, pasar kamera D-SLR seperti apa. Selanjutnya, keputusannya tetap terserah anda.
Merk
Sekarang ini, di pasaran D-SLR, hanya ada 2 (dua) merk yang menguasai pasar kamera D-SLR 35mm. Keduanya adalah Nikon dan Canon. Mereka berdua menguasai hampir 85% pangsa pasar kamera D-SLR. Menurut data 2007, yang saya ambil dari laporan di site ini, Canon berhasil menjual 3.18 juta unit kamera D-SLR, sedangkan Nikon berhasil menjual 2.98 juta unit kamera. Angka-angka tersebut merupakan 42.7% untuk Canon dan 40% untuk Nikon dari total unit penjualan kamera D-SLR di tahun 2007. Di tahun 2006, Canon mendapat 46.7% sedangkan Nikon mendapat 33%.

Patut dicatat , angka-angka itu tidak mencerminkan total pemasukan (revenue) untuk perusahaan (dalam Dollar ataupun Yen bahkan Rupiah), dan juga tidak mencerminkan total unit penjualan semua kamera (compact dan D-SLR).
Tentu saja, selain Nikon dan Canon, juga terdapat merk-merk lain yang juga memiliki kamera D-SLR yang cukup bagus. Mereka adalah Olympus, Sony, Pentax, dan Sigma. Dalam hal Sony, mereka mulai masuk pasar D-SLR setelah mereka membeli teknologi D-SLR yang dimiliki oleh Konica-Minolta yang bangkrut, tidak kuat bersaing di pasar D-SLR. Jadi, kamera sony dapat memakai lensa-lensa auto-focus milik Minolta. Sony juga memasok sensor untuk beberapa model kamera D-SLR Nikon
Selengkapnya...

Halaman Rumah



Selengkapnya...